Jakarta, 24 September 2026 – TNI Angkatan Laut melakukan retrofit terhadap alat komunikasi (alkom) KRI Sriwijaya sebagai bagian dari modernisasi sistem komunikasi kapal perang. Langkah tersebut dilakukan karena sejumlah perangkat yang digunakan masih mengacu pada standar NATO dan perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan operasi TNI AL. Pembaruan diarahkan agar komunikasi kapal dapat terintegrasi lebih baik dengan sistem komando dan pengendalian yang digunakan saat ini. Retrofit juga menjadi pilihan untuk meningkatkan kemampuan kapal tanpa harus mengganti seluruh perangkat dan infrastruktur yang masih dapat digunakan.
KRI Sriwijaya memiliki kebutuhan komunikasi yang kompleks karena menjalankan fungsi penting dalam mendukung operasi laut. Kapal membutuhkan sistem yang mampu mempertahankan komunikasi dengan unsur kapal lain, pangkalan, pusat komando, hingga satuan yang terlibat dalam sebuah operasi. Keandalan komunikasi menjadi penting ketika kapal berada jauh dari pangkalan maupun ketika menjalankan operasi gabungan. Karena itu, perangkat yang digunakan harus memiliki kemampuan interoperabilitas sekaligus menjaga keamanan informasi yang dipertukarkan.
Modernisasi alkom dilakukan dengan mempertimbangkan keberadaan perangkat lama yang menggunakan standar komunikasi berbeda. Sistem berstandar NATO pada dasarnya mempunyai karakteristik teknis dan protokol tertentu yang harus disesuaikan ketika akan diintegrasikan dengan perangkat baru. Proses retrofit karena itu tidak hanya berupa penggantian radio atau perangkat komunikasi, tetapi juga mencakup integrasi sistem. TNI AL perlu memastikan peralatan lama dan baru dapat bekerja dalam satu arsitektur komunikasi yang sesuai kebutuhan operasional.
Retrofit menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam modernisasi alat utama sistem senjata karena memungkinkan kemampuan platform lama ditingkatkan secara bertahap. Perangkat yang masih mempunyai usia pakai dapat dipertahankan, sementara bagian yang tidak lagi sesuai kebutuhan dapat diganti atau diperbarui. Pendekatan tersebut juga memungkinkan penyesuaian teknologi dilakukan tanpa harus menunggu pengadaan kapal baru. Dengan demikian, kesiapan operasional kapal dapat tetap dijaga selama proses modernisasi armada berlangsung.
Sistem komunikasi kapal perang mempunyai karakter berbeda dibandingkan perangkat komunikasi komersial. Selain harus mampu bekerja dalam berbagai kondisi cuaca dan lingkungan laut, perangkat tersebut perlu memenuhi persyaratan keamanan dan ketahanan terhadap gangguan. Komunikasi suara, data, dan informasi operasional harus dapat dikirim dengan cepat kepada unsur lain yang membutuhkan. Dalam situasi operasi, gangguan komunikasi dapat memengaruhi koordinasi sehingga keandalan perangkat menjadi bagian penting dari kesiapan tempur kapal.
Pembaruan sistem juga berkaitan dengan kebutuhan TNI AL membangun komunikasi yang semakin terintegrasi. Operasi laut modern membutuhkan pertukaran data antara kapal perang, pesawat udara, satuan darat, dan pusat komando. Informasi mengenai posisi unsur, kondisi wilayah operasi, maupun perkembangan situasi harus dapat disampaikan secara cepat dan aman. Karena itu, modernisasi alkom menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan sistem komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengamatan, dan pengintaian.
Proses retrofit membutuhkan pengujian setelah perangkat baru dipasang. Pengujian diperlukan untuk memastikan sistem dapat beroperasi sesuai spesifikasi serta kompatibel dengan perangkat lain yang digunakan TNI AL. Selain pengujian teknis, personel kapal juga perlu memahami pengoperasian dan pemeliharaan perangkat baru. Pelatihan awak menjadi penting agar peningkatan teknologi benar-benar dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kemampuan operasional di lapangan.
Modernisasi perangkat komunikasi juga memberikan peluang meningkatkan keterlibatan industri pertahanan dan perusahaan teknologi nasional. Kemampuan melakukan integrasi, pemeliharaan, dan pengembangan sistem di dalam negeri dapat mengurangi ketergantungan terhadap dukungan teknis dari luar negeri. Penguasaan teknologi tersebut menjadi semakin penting karena sistem komunikasi merupakan salah satu komponen strategis dalam operasi militer. Dukungan industri domestik juga dapat mempermudah pemeliharaan selama masa penggunaan kapal.
Meski demikian, penggunaan standar NATO pada perangkat lama tidak dengan sendirinya berarti sistem tersebut tidak dapat digunakan. Fokus retrofit lebih diarahkan pada penyesuaian kemampuan dengan kebutuhan komunikasi modern, interoperabilitas, keamanan, serta kemudahan pemeliharaan. Sistem yang masih memenuhi persyaratan dapat tetap dipertahankan dan diintegrasikan dengan teknologi yang lebih baru. Pendekatan tersebut memungkinkan modernisasi dilakukan secara lebih efisien dengan mempertimbangkan kondisi setiap perangkat.
Retrofit alkom KRI Sriwijaya menjadi bagian dari upaya menjaga kesiapan armada TNI AL di tengah perkembangan teknologi peperangan laut. Pembaruan komunikasi diharapkan meningkatkan kemampuan kapal dalam bertukar informasi, berkoordinasi dengan unsur lain, dan menjalankan fungsi komando secara lebih efektif. Modernisasi secara bertahap juga memungkinkan kapal yang telah beroperasi tetap relevan menghadapi perubahan kebutuhan operasi. Setelah proses pemasangan dan pengujian selesai, sistem baru diharapkan dapat mendukung KRI Sriwijaya dalam berbagai penugasan TNI AL.





