Jakarta, 22 Agustus 2026 – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan agar perang dengan Amerika Serikat diakhiri ketika Tehran masih menilai dirinya berada dalam posisi kuat. Pernyataan tersebut disampaikan ketika jalur diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali menghadapi kebuntuan, sementara tekanan ekonomi terhadap Tehran semakin meningkat. Pezeshkian menilai Iran sebaiknya tidak menunggu hingga kondisi menjadi lebih berat untuk mencari jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Sikap tersebut memperlihatkan adanya dorongan dari pemerintahan Iran untuk mengakhiri perang melalui kesepakatan yang tetap mempertahankan posisi dan kepentingan Tehran. Pada saat yang sama, Washington terus meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui ancaman sanksi baru dan tuntutan yang lebih keras.
Seruan Pezeshkian muncul setelah upaya mencapai kesepakatan damai sebelumnya tidak menghasilkan terobosan yang bertahan lama. Kesepakatan sementara yang menjadi dasar penghentian pertempuran dan pembicaraan lanjutan berakhir tanpa tercapainya perjanjian permanen pada 17 Agustus. Iran dan Amerika Serikat kemudian kembali saling menyalahkan atas kegagalan memenuhi berbagai ketentuan yang telah disepakati, termasuk persoalan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan tekanan ekonomi. Tehran menginginkan jaminan bahwa perang tidak akan kembali terjadi serta meminta sejumlah konsesi sebagai bagian dari penyelesaian konflik. Washington, di sisi lain, menuntut perubahan kebijakan Iran dan tetap mempertahankan tekanan ekonomi sebagai alat untuk memaksa Tehran menerima persyaratan Amerika Serikat.
Posisi Iran dalam menghadapi konflik tersebut juga tidak sederhana karena pemerintah harus mempertimbangkan kemampuan militer sekaligus kondisi ekonomi dalam negeri. Pezeshkian menyampaikan bahwa mengakhiri perang dari posisi yang dinilai kuat akan lebih menguntungkan dibandingkan terus melanjutkan konflik sampai tekanan terhadap perekonomian semakin besar. Tekanan tersebut semakin terasa setelah Amerika Serikat kembali menyiapkan langkah ekonomi yang lebih agresif terhadap Tehran dan mitra dagangnya. Iran juga menghadapi gangguan besar terhadap aktivitas ekspor minyak serta pembatasan akses terhadap sumber daya keuangan akibat sanksi. Kondisi tersebut membuat perdebatan mengenai pilihan antara melanjutkan konfrontasi atau mencari kesepakatan menjadi semakin penting bagi pemerintah Iran.
Di sisi lain, Tehran masih menunjukkan bahwa keinginan mengakhiri perang bukan berarti Iran siap menerima seluruh tuntutan Washington. Pemerintah Iran sebelumnya menolak konsep gencatan senjata yang hanya bersifat sementara dan lebih memilih kesepakatan yang benar-benar mengakhiri perang dengan jaminan tidak adanya serangan kembali. Iran juga menempatkan persoalan Selat Hormuz sebagai bagian penting dalam pembicaraan karena kawasan tersebut memiliki peran strategis bagi perdagangan energi dunia. Sejumlah tuntutan Iran mencakup penghentian tekanan militer, pencabutan sanksi, serta jaminan keamanan untuk mencegah konflik baru. Dengan demikian, pernyataan Pezeshkian dapat dipahami sebagai dorongan untuk membuka jalan diplomasi, tetapi tetap dengan syarat bahwa hasil akhirnya tidak dipandang sebagai bentuk penyerahan kepada tekanan Amerika Serikat.
Situasi menjadi semakin rumit karena di dalam pemerintahan Iran terdapat kepentingan yang harus diseimbangkan antara kebutuhan mempertahankan kemampuan pertahanan dan tuntutan untuk memulihkan perekonomian. Pezeshkian mendorong penyelesaian diplomatik ketika tekanan ekonomi meningkat, sementara sejumlah tokoh keamanan Iran tetap menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan eskalasi baru. Pada pertengahan Agustus, seorang pejabat Iran bahkan menyatakan bahwa Tehran dapat beralih ke posisi militer yang lebih ofensif apabila upaya diplomasi gagal. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran masih menempatkan kemampuan militer sebagai alat tekanan dalam proses negosiasi. Kondisi itu membuat peluang tercapainya kesepakatan sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak untuk menemukan formula yang dapat diterima tanpa membuat salah satu pihak terlihat kehilangan posisi tawar.
Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan paling sensitif dalam upaya mengakhiri konflik. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia sehingga gangguan terhadap aktivitas kapal tanker dapat berdampak jauh melampaui kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa bulan terakhir, lalu lintas minyak melalui selat tersebut mengalami penurunan tajam akibat konflik dan ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat. Iran mempertahankan pengaruh kuat terhadap akses pelayaran di kawasan tersebut, sedangkan Washington menuntut agar jalur tersebut kembali terbuka secara bebas. Perbedaan kepentingan itu menjadi salah satu hambatan terbesar dalam perundingan karena menyangkut keamanan regional sekaligus kepentingan ekonomi internasional.
Tekanan dari Amerika Serikat juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi perhitungan Tehran. Presiden Donald Trump telah mengancam akan menerapkan tekanan ekonomi yang jauh lebih besar terhadap Iran setelah pembicaraan sebelumnya tidak menghasilkan kesepakatan yang diharapkan Washington. Pemerintah Amerika Serikat berupaya menggunakan sanksi sebagai instrumen untuk menekan Iran agar kembali berunding dengan posisi yang lebih menguntungkan bagi Washington. Bagi Iran, tekanan tersebut berisiko memperburuk kondisi ekonomi, terutama apabila pembatasan terhadap ekspor minyak dan akses ke sistem keuangan internasional semakin diperketat. Karena itu, keinginan Pezeshkian untuk mengakhiri perang saat Iran masih merasa memiliki posisi tawar dapat menjadi upaya untuk menghindari kondisi di mana Tehran harus bernegosiasi setelah tekanan ekonomi dan militer menjadi jauh lebih berat.
Pernyataan Pezeshkian sekaligus menunjukkan bahwa peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup meskipun pembicaraan formal masih mengalami kebuntuan. Sejumlah negara telah berupaya menjadi perantara untuk mempertemukan kepentingan Iran dan Amerika Serikat, tetapi hingga kini belum terlihat formula yang mampu menyelesaikan perbedaan utama kedua pihak. Iran menginginkan jaminan keamanan dan penghentian permanen perang, sedangkan Amerika Serikat berusaha mendapatkan perubahan kebijakan Tehran yang lebih luas. Selama kedua pihak masih mempertahankan tuntutan utama masing-masing, proses menuju kesepakatan akan tetap menghadapi risiko kegagalan. Namun, dorongan dari pihak Iran untuk mengakhiri perang dari posisi kuat dapat menjadi sinyal bahwa Tehran masih membuka ruang bagi penyelesaian diplomatik selama hasil akhirnya dapat menjaga kepentingan nasional Iran.
Perkembangan tersebut membuat masa depan konflik Iran-Amerika Serikat sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak mengubah tekanan militer dan ekonomi menjadi momentum perundingan. Iran tampaknya ingin memanfaatkan posisi yang masih dianggap memiliki kekuatan untuk mencapai kesepakatan sebelum dampak sanksi dan gangguan ekonomi menjadi semakin berat. Amerika Serikat, sebaliknya, berusaha mempertahankan tekanan dengan harapan Tehran akhirnya menerima persyaratan yang lebih sesuai dengan kepentingan Washington. Di tengah tarik-menarik tersebut, ancaman kembalinya konflik tetap menjadi risiko apabila jalur diplomasi kembali gagal. Jika kedua pihak mampu menemukan titik temu mengenai keamanan, sanksi, Selat Hormuz, dan jaminan tidak adanya serangan lanjutan, peluang mengakhiri perang secara permanen akan semakin terbuka, tetapi untuk saat ini jalan menuju kesepakatan masih menghadapi sejumlah hambatan besar.



