Jakarta, 7 September 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin, 7 September 2026 di zona merah setelah gagal mempertahankan penguatan pada awal sesi. IHSG ditutup melemah sekitar 16,81 poin atau 0,25 persen ke level 6.619. Indeks sebelumnya membuka perdagangan pada posisi 6.652,09 dan sempat bergerak naik hingga menyentuh kisaran 6.667. Namun, tekanan jual yang meningkat membuat indeks berbalik arah dan sempat turun ke sekitar 6.610 sebelum perdagangan berakhir. Pelemahan sektor keuangan menjadi salah satu faktor utama yang menahan pergerakan pasar sepanjang sesi.
Tekanan terhadap IHSG terlihat dari banyaknya saham yang bergerak di zona merah pada penghujung perdagangan. Berdasarkan statistik penutupan, sebanyak 348 saham tercatat mengalami penurunan, sedangkan 300 saham berhasil menguat dan 315 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Pergerakan tersebut memperlihatkan tekanan jual tersebar cukup luas meskipun sejumlah sektor masih mampu mempertahankan penguatan. Investor juga terlihat melakukan penyesuaian portofolio setelah indeks mengalami pergerakan cukup dinamis pada perdagangan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat IHSG kesulitan kembali menuju level tertinggi yang sempat dicapai pada awal perdagangan.
Aktivitas transaksi tetap berlangsung cukup ramai meskipun indeks ditutup melemah. Volume perdagangan tercatat mencapai sekitar 35,18 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp13,59 triliun. Frekuensi perdagangan mencapai sekitar 2,116 juta kali transaksi sepanjang hari. Sementara itu, kapitalisasi pasar tercatat berada di kisaran Rp11.575 triliun. Tingginya aktivitas tersebut menunjukkan pelaku pasar tetap aktif melakukan transaksi meskipun arah indeks bergerak negatif.
Dari sisi sektoral, sektor keuangan mencatat koreksi paling dalam dengan penurunan sekitar 0,76 persen. Tekanan pada sektor tersebut terutama terlihat pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan terhadap IHSG. Saham PT Bank Central Asia Tbk tercatat turun sekitar 1,12 persen ke Rp6.625 per saham. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk melemah sekitar 0,76 persen menjadi Rp3.910, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terkoreksi sekitar 0,68 persen ke Rp4.390. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk juga berakhir melemah sekitar 0,59 persen ke level Rp3.370 per saham.
Selain keuangan, sektor barang baku ikut mengalami tekanan dengan penurunan sekitar 0,70 persen. Sektor teknologi menyusul dengan koreksi 0,61 persen, sementara properti turun sekitar 0,27 persen. Infrastruktur mengalami penurunan lebih terbatas sebesar 0,05 persen dan sektor barang konsumen primer terkoreksi sekitar 0,04 persen. Secara keseluruhan terdapat enam sektor yang berakhir di zona merah. Pelemahan beberapa sektor sekaligus membuat penguatan pada kelompok saham lainnya belum cukup membawa IHSG kembali ke wilayah positif.
Di sisi lain, lima sektor masih berhasil membukukan kenaikan dan menjadi penahan agar koreksi IHSG tidak semakin dalam. Sektor perindustrian menjadi penguat terbesar dengan kenaikan sekitar 1,25 persen, diikuti sektor energi yang tumbuh 1,03 persen. Sektor kesehatan juga tampil positif dengan kenaikan sekitar 0,82 persen. Barang konsumen nonprimer menguat 0,08 persen, sementara sektor transportasi dan logistik bertambah tipis sekitar 0,03 persen. Kinerja sektor energi terutama mendapatkan dukungan dari sejumlah saham batu bara yang mengalami kenaikan cukup kuat.
Beberapa saham energi berkapitalisasi besar bahkan berhasil mencatatkan kenaikan signifikan di tengah pelemahan indeks. Saham PT Bumi Resources Tbk menguat sekitar 4,76 persen menjadi Rp220 per saham, sementara PT Bukit Asam Tbk naik sekitar 4,51 persen ke Rp3.010. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk turut menguat sekitar 4 persen menjadi Rp11.700 per saham. Saham PT AKR Corporindo Tbk juga naik 4,69 persen ke posisi Rp1.450. Penguatan kelompok saham tersebut membantu membatasi tekanan yang berasal dari saham-saham perbankan besar.
Pergerakan saham dengan kenaikan tertinggi juga menarik perhatian sepanjang perdagangan. PT Hetzer Medical Indonesia Tbk menjadi salah satu saham yang mencatat kenaikan terbesar dengan penguatan sekitar 34,72 persen ke level Rp97. PT Nusantara Almazia Tbk menyusul dengan kenaikan sekitar 31,08 persen menjadi Rp228, sedangkan PT Haloni Jane Tbk menguat sekitar 26,09 persen ke Rp87. Saham-saham sektor kesehatan mendapat perhatian sejak sesi awal perdagangan seiring meningkatnya kebutuhan sejumlah produk kesehatan di tengah dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Namun, pergerakan harga saham tetap dipengaruhi berbagai faktor sehingga kenaikan jangka pendek tidak dapat menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi.
Pada kelompok saham yang mengalami penurunan terdalam, PT Harapan Duta Pertiwi Tbk tercatat melemah sekitar 14,71 persen hingga berada di level Rp232. PT Armada Berjaya Trans Tbk menyusul dengan koreksi sekitar 11,76 persen menjadi Rp150. Sementara itu, PT Mineral Sumberdaya Mandiri Tbk mengalami penurunan sekitar 9,88 persen ke posisi Rp292. Pergerakan sejumlah saham tersebut memperlihatkan volatilitas masih cukup tinggi pada awal pekan. Investor cenderung lebih selektif dengan memperhatikan perkembangan masing-masing emiten sekaligus kondisi pasar secara keseluruhan.
Perdagangan Senin juga memperlihatkan perbedaan arah antara IHSG dan sejumlah bursa utama Asia yang bergerak menguat. Pada sesi pertama, indeks Korea Selatan dan Jepang mencatat kenaikan cukup kuat, sedangkan IHSG justru berbalik melemah setelah sempat bergerak positif. Tekanan pada saham keuangan domestik membuat indeks Indonesia tidak mampu mengikuti penguatan sebagian pasar regional. Di saat bersamaan, sektor energi dan kesehatan menjadi penyeimbang sehingga penurunan IHSG tetap terbatas di kisaran seperempat persen. Pergerakan tersebut menunjukkan sentimen sektoral masih memiliki pengaruh besar terhadap arah indeks dalam jangka pendek.
Dengan penutupan di level 6.619, pelaku pasar selanjutnya akan mencermati kemampuan IHSG mempertahankan area tersebut pada perdagangan berikutnya. Pergerakan saham perbankan berkapitalisasi besar kemungkinan tetap menjadi salah satu faktor yang menentukan karena bobotnya yang tinggi terhadap indeks. Sementara itu, kekuatan sektor energi, kesehatan, dan perindustrian dapat menjadi penyeimbang apabila mampu mempertahankan momentum positif. Investor juga akan terus memperhatikan perkembangan ekonomi domestik, pergerakan pasar global, harga komoditas, serta sentimen yang memengaruhi aliran dana. Setelah bergerak dalam rentang cukup lebar pada awal pekan, arah IHSG berikutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara tekanan jual saham berkapitalisasi besar dan penguatan sektor-sektor penopang.




