Medan, 9 September 2026 – Kondisi seorang siswi asal Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menjadi perhatian setelah dilaporkan mengalami kejang dan gangguan daya ingat seusai menjadi korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Siswi berusia 16 tahun yang dikenal dengan nama Febiola tersebut disebut keluarganya mengalami penurunan kemampuan mengingat hingga sekitar 70 persen. Keluhan muncul setelah kasus keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Kabupaten Karo pada pertengahan Agustus 2026. Namun, dokter mengingatkan bahwa hubungan antara keracunan makanan dan gangguan ingatan tidak dapat langsung disimpulkan tanpa pemeriksaan menyeluruh. Penyebab pasti kondisi Febiola hingga kini masih dalam proses evaluasi medis.
Febiola merupakan salah satu pelajar yang terdampak kasus dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo. Ratusan siswa dari sejumlah sekolah dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program tersebut. Gejala yang muncul pada korban secara umum berkaitan dengan gangguan pencernaan seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare. Kondisi Febiola kemudian mendapatkan perhatian khusus karena keluhannya disebut berlanjut setelah fase awal keracunan berlalu. Selain mengalami kejang, keluarganya menyebut kemampuan mengingat sejumlah orang terdekat juga terganggu.
Ibu Febiola mengungkapkan putrinya bahkan sempat tidak mengenali anggota keluarga yang tinggal serumah dengannya. Kondisi tersebut membuat keluarga membawa Febiola menjalani pemeriksaan di beberapa fasilitas kesehatan. Sejak mengalami keracunan pada Agustus, ia disebut telah mendapatkan pemeriksaan di lima rumah sakit berbeda. Pemeriksaan terbaru dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan dengan melibatkan sejumlah bidang spesialisasi. Tim medis berusaha mencari penjelasan mengenai munculnya kejang dan gangguan ingatan yang dialami pasien.
Pada Selasa, 8 September 2026, Febiola dijadwalkan menjalani pemeriksaan elektroensefalografi atau EEG untuk mengevaluasi aktivitas listrik otaknya. Namun, keluarga menyebut Febiola kembali mengalami kejang ketika berada di rumah sakit. Pemeriksaan medis sebelumnya disebut menunjukkan kondisi otak, ginjal, dan darah tidak memperlihatkan kelainan yang dapat langsung menjelaskan seluruh gejala. Pihak rumah sakit menyatakan kondisi pasien secara umum stabil dan penanganannya dapat dilanjutkan melalui rawat jalan. Meski demikian, proses evaluasi belum selesai sehingga tim dokter belum memberikan kesimpulan akhir mengenai penyebab keluhannya.
Dokter spesialis mikrobiologi klinik Agung Dwi Wahyu Widodo menjelaskan bahwa kejang yang kemudian diikuti amnesia bukan merupakan gambaran yang lazim pada kasus keracunan makanan biasa. Gejala keracunan makanan umumnya berupa mual, muntah, diare, kram perut, dan tubuh terasa lemas. Apabila muncul gangguan neurologis seperti kejang dan perubahan daya ingat, penyebabnya perlu ditelusuri secara lebih luas. Riwayat kesehatan pasien sebelum keracunan juga menjadi bagian penting dalam pemeriksaan. Dengan demikian, munculnya gangguan ingatan setelah keracunan tidak otomatis membuktikan bahwa racun dalam makanan secara langsung merusak otak.
Salah satu mekanisme yang secara medis mungkin terjadi adalah dehidrasi berat akibat muntah dan diare berkepanjangan. Kehilangan cairan dalam jumlah besar dapat mengganggu keseimbangan elektrolit seperti natrium yang mempunyai peranan penting dalam kerja saraf dan otot. Gangguan elektrolit akut yang berat pada kondisi tertentu dapat memicu perubahan kesadaran hingga kejang. Tekanan darah yang turun sangat rendah juga berpotensi mengurangi aliran darah dan oksigen menuju organ penting. Namun, keberadaan mekanisme tersebut pada Febiola tetap harus dibuktikan berdasarkan data klinis ketika kondisi akut terjadi dan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan gejala yang dilaporkan setelahnya.
Dokter Tubagus Siswadi juga menilai terlalu cepat apabila gangguan ingatan Febiola langsung dikaitkan dengan kerusakan hipokampus akibat kekurangan oksigen. Hipokampus memang merupakan bagian otak yang memiliki peranan penting dalam pembentukan dan pengelolaan memori. Akan tetapi, untuk menyatakan bagian tersebut mengalami kerusakan diperlukan bukti medis yang sesuai. Kondisi pasien ketika mengalami keracunan perlu ditelusuri, termasuk apakah pernah terjadi tekanan darah sangat rendah, penurunan saturasi oksigen, gangguan elektrolit, perubahan kadar gula darah, gangguan fungsi ginjal, maupun kejang berkepanjangan. Pemeriksaan neurologis menjadi penting untuk membedakan berbagai kemungkinan tersebut.
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel makanan dalam kasus keracunan di Karo sebelumnya dilaporkan menemukan beberapa jenis bakteri. Bacillus cereus ditemukan pada sampel nasi, Staphylococcus aureus terdeteksi pada makanan berbahan ikan, sementara Escherichia coli ditemukan pada sampel buah melon. Bakteri-bakteri tersebut dapat menyebabkan penyakit bawaan makanan dengan karakter gejala yang berbeda. Namun, keberadaan bakteri dalam sampel makanan tidak serta-merta menjelaskan gangguan ingatan yang dialami Febiola. Dokter tetap perlu mengetahui jenis paparan, tingkat keparahan penyakit, respons tubuh pasien, serta komplikasi yang mungkin terjadi selama fase akut.
Bakteri seperti Staphylococcus aureus dapat menghasilkan enterotoksin yang terutama menyebabkan gangguan saluran pencernaan berupa mual, muntah, kram, dan diare. Bacillus cereus juga dapat menyebabkan sindrom muntah atau diare bergantung pada jenis toksin yang terlibat. Sementara beberapa jenis E. coli tertentu dapat menyebabkan gangguan pencernaan hingga komplikasi serius. Meski demikian, tidak semua bakteri E. coli memiliki karakter toksin yang sama. Karena itu, identifikasi mikroorganisme harus disertai analisis laboratorium dan kondisi klinis pasien sebelum dikaitkan dengan komplikasi tertentu.
Dalam ilmu kedokteran memang terdapat racun tertentu dari makanan yang diketahui dapat menimbulkan gangguan neurologis. Salah satu contohnya adalah asam domoat yang dapat terakumulasi pada makanan laut tertentu dan dalam kasus berat pernah dikaitkan dengan kejang serta gangguan pembentukan memori. Namun, contoh tersebut tidak berarti racun yang sama menjadi penyebab kondisi siswi di Karo. Tidak ada dasar untuk menyimpulkan Febiola mengalami paparan asam domoat hanya karena mempunyai keluhan berupa kejang dan gangguan ingatan. Penentuan penyebab harus berdasarkan pemeriksaan pasien sekaligus analisis terhadap makanan yang diduga menjadi sumber keracunan.
Pihak RSUP H. Adam Malik Medan menyatakan Febiola telah menjalani beberapa kali pemeriksaan dan mendapatkan penanganan dari dokter spesialis gastro anak, neurologi anak, serta psikiatri. Pendekatan lintas disiplin diperlukan karena keluhan yang dialami tidak terbatas pada sistem pencernaan. Pemeriksaan EEG menjadi salah satu bagian evaluasi untuk melihat aktivitas listrik otak dan membantu dokter menilai keluhan kejang. Keluarga juga diminta mendokumentasikan apabila episode kejang kembali terjadi ketika Febiola berada di rumah. Rekaman tersebut dapat membantu dokter memahami karakter kejadian yang dialami pasien dan menentukan pemeriksaan maupun terapi berikutnya.
Di tengah beredarnya klaim mengenai kehilangan ingatan hingga 70 persen, angka tersebut juga perlu ditempatkan secara hati-hati sampai terdapat penjelasan klinis yang lebih lengkap. Gangguan memori dapat melibatkan kemampuan yang berbeda, mulai dari mengingat kejadian lama, mengenali orang, mempertahankan informasi baru hingga kemampuan membentuk memori baru. Penilaian mengenai tingkat gangguan kognitif idealnya dilakukan menggunakan pemeriksaan medis dan neuropsikologis yang sesuai. Karena itu, angka persentase yang beredar tidak dengan sendirinya dapat digunakan sebagai diagnosis mengenai seberapa besar bagian ingatan pasien yang benar-benar hilang.
Kasus Febiola pada akhirnya masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan sebelum hubungan antara keracunan makanan, kejang, dan gangguan ingatan dapat dipastikan. Dokter menekankan bahwa beberapa mekanisme seperti dehidrasi berat, gangguan elektrolit, hipoksia, kejang, efek toksin maupun kondisi medis lainnya harus diperiksa satu per satu. Temuan bakteri pada makanan menjadi informasi penting dalam penyelidikan kasus keracunan massal, tetapi belum cukup untuk menjelaskan seluruh keluhan neurologis seorang pasien. RSUP H. Adam Malik masih melanjutkan pemantauan terhadap Febiola melalui rawat jalan dan pemeriksaan multidisiplin. Kepastian mengenai penyebab gangguan ingatannya akan sangat bergantung pada hasil evaluasi medis lengkap, bukan sekadar hubungan waktu antara keracunan dan munculnya gejala.




