Jakarta, 30 Agustus 2026 – Pemerintah terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui berbagai program peningkatan kompetensi yang menyasar lulusan perguruan tinggi, lulusan SMK, hingga masyarakat yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Langkah tersebut dilakukan untuk membantu tenaga kerja menghadapi perubahan kebutuhan industri yang semakin cepat, terutama akibat perkembangan teknologi dan transformasi digital. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai penguatan kompetensi menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing perekonomian nasional. Pemerintah tidak hanya mendorong penciptaan lapangan kerja, tetapi juga berupaya memastikan tenaga kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara kemampuan pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan.
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah pemagangan bagi lulusan baru atau fresh graduate. Pemerintah menyiapkan kesempatan pemagangan bagi sekitar 120 ribu hingga 150 ribu lulusan perguruan tinggi agar mereka memperoleh pengalaman langsung di lingkungan industri selama enam bulan. Program tersebut mendapatkan dukungan pembiayaan dari pemerintah dengan anggaran yang disiapkan mencapai Rp4,14 triliun. Melalui pengalaman kerja secara langsung, lulusan baru diharapkan tidak hanya mengandalkan pengetahuan akademik yang diperoleh selama kuliah, tetapi juga memahami budaya kerja, tuntutan profesional, dan pola kerja di perusahaan. Pengalaman tersebut dinilai dapat membantu mereka menjadi lebih siap ketika memasuki pasar kerja secara penuh.
Program pemagangan juga menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri yang selama ini menjadi salah satu tantangan dalam penyerapan tenaga kerja muda. Banyak lulusan perguruan tinggi memiliki latar belakang akademik yang baik, tetapi belum memiliki pengalaman kerja yang cukup ketika mulai mencari pekerjaan. Kondisi tersebut dapat menjadi hambatan ketika perusahaan membutuhkan kandidat yang sudah memiliki kemampuan praktis. Melalui pemagangan, peserta dapat memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang dipelajari di kampus dalam situasi kerja nyata. Peserta juga dapat mengenali kemampuan yang perlu ditingkatkan sebelum benar-benar memasuki persaingan di pasar kerja.
Pemerintah sebelumnya telah membuka Program Magang Nasional 2026 dengan target hingga 150 ribu peserta lulusan perguruan tinggi. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat keterampilan sekaligus memberikan pengalaman kerja kepada generasi muda. Pelaksanaannya juga terus diperbaiki melalui peningkatan kualitas mentor, penguatan perlindungan peserta, serta penyesuaian posisi magang dengan kompetensi dan latar belakang pendidikan. Pemerintah juga mendorong agar program tersebut tidak sekadar menjadi aktivitas sementara, tetapi benar-benar memberikan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan perusahaan. Dengan demikian, peserta diharapkan memiliki nilai tambah ketika melamar pekerjaan setelah menyelesaikan masa pemagangan.
Selain lulusan perguruan tinggi, pemerintah memberikan perhatian kepada lulusan SMA dan SMK melalui program vokasi. Sebanyak 220 ribu lulusan SMK ditargetkan mendapatkan akses program vokasi yang diarahkan agar mereka dapat lebih mudah memasuki dunia industri. Anggaran sekitar Rp2,12 triliun disiapkan untuk mendukung pelaksanaan program tersebut. Pendidikan vokasi dinilai penting karena sebagian besar pekerjaan di sektor industri membutuhkan keterampilan teknis yang dapat langsung diterapkan. Pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan juga dapat membantu lulusan sekolah menengah memperoleh kompetensi yang lebih spesifik dan relevan.
Program peningkatan kompetensi juga diperluas kepada masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat PHK. Pemerintah menyiapkan program retraining atau pelatihan ulang agar pekerja terdampak dapat memperoleh keterampilan baru dan kembali masuk ke pasar kerja. Pelatihan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di dalam negeri, tetapi juga dapat membuka peluang bagi peserta untuk bekerja di luar negeri. Bagi pekerja yang sebelumnya memiliki keterampilan tertentu tetapi tidak lagi sesuai dengan kebutuhan industri, retraining dapat menjadi kesempatan untuk menyesuaikan kemampuan mereka dengan perkembangan lapangan kerja. Pemerintah berharap program tersebut dapat membantu mempercepat proses pekerja kembali memperoleh penghasilan setelah kehilangan pekerjaan.
Kebijakan tersebut menjadi semakin penting karena dunia kerja sedang mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Airlangga menyoroti kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) sebagai salah satu teknologi yang berpotensi membawa perubahan besar terhadap berbagai sektor. AI tidak hanya digunakan dalam industri teknologi, tetapi mulai diterapkan pada manufaktur, jasa keuangan, perdagangan, kesehatan, pendidikan, hingga berbagai bidang pekerjaan lainnya. Perubahan tersebut membuat kebutuhan perusahaan terhadap jenis keterampilan tertentu ikut berubah. Tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan teknologi baru akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang dalam pasar kerja yang semakin dinamis.
Perubahan teknologi juga membuat pendidikan dan pelatihan tenaga kerja tidak dapat berhenti setelah seseorang memperoleh ijazah. Kompetensi perlu diperbarui secara berkala agar tetap sesuai dengan perkembangan pekerjaan dan teknologi. Pemerintah mendorong penguatan hubungan antara perguruan tinggi, lembaga pelatihan, dan dunia industri agar materi pembelajaran tidak tertinggal dari kebutuhan perusahaan. Kolaborasi tersebut juga dapat membantu lembaga pendidikan memahami jenis keterampilan yang paling banyak dibutuhkan dalam beberapa tahun mendatang. Dengan hubungan yang lebih erat, proses pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja.
Selain memperkuat program bagi tenaga kerja umum, pemerintah juga mulai membangun kapasitas SDM untuk mendukung industri semikonduktor. Kerja sama dengan Arm Limited diarahkan untuk memberikan pelatihan kepada sekitar 15 ribu peserta agar dapat masuk ke dalam ekosistem semikonduktor. Bidang tersebut dipandang memiliki nilai strategis karena kebutuhan terhadap chip dan komponen semikonduktor terus meningkat seiring perkembangan AI, kendaraan listrik, perangkat pintar, dan pusat data. Pengembangan tenaga ahli di bidang tersebut membutuhkan waktu sehingga pemerintah mulai mempersiapkan SDM sejak sekarang. Pelatihan khusus diharapkan dapat membantu Indonesia memiliki tenaga kerja yang mampu memenuhi kebutuhan industri teknologi dengan tingkat keahlian yang lebih tinggi.
Pemerintah juga menilai penguatan kompetensi harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya melalui satu jenis program. Setiap kelompok pencari kerja memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga pendekatan yang digunakan perlu disesuaikan. Fresh graduate membutuhkan pengalaman dan pemahaman mengenai dunia kerja, sedangkan lulusan SMK membutuhkan keterampilan teknis yang sesuai dengan kebutuhan industri. Sementara itu, korban PHK membutuhkan kesempatan untuk meningkatkan atau mengubah kompetensi agar dapat kembali bersaing memperoleh pekerjaan. Perbedaan kebutuhan tersebut membuat program pemagangan, vokasi, dan retraining perlu berjalan secara beriringan.
Dari sisi perusahaan, keberadaan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai juga dapat membantu meningkatkan produktivitas. Perusahaan tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memberikan pelatihan dasar apabila calon pekerja sudah memiliki keterampilan yang dibutuhkan. Karena itu, keterhubungan antara dunia pendidikan dan industri menjadi salah satu faktor penting dalam kebijakan peningkatan SDM. Perguruan tinggi maupun sekolah kejuruan perlu memahami perubahan kebutuhan perusahaan, sementara dunia usaha dapat memberikan masukan mengenai keterampilan yang harus diperkuat. Hubungan dua arah tersebut dapat membantu menciptakan pasar kerja yang lebih sesuai antara kebutuhan perusahaan dan kemampuan tenaga kerja.
Peningkatan kompetensi juga diharapkan dapat membantu Indonesia memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi. Pemerintah mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026, sementara inflasi berada pada level yang relatif terkendali. Pertumbuhan ekonomi yang positif perlu diikuti dengan kemampuan SDM untuk mengisi peluang kerja yang tercipta. Tanpa tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai, sebagian peluang investasi dan ekspansi industri berpotensi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Karena itu, pembangunan SDM ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Program-program tersebut juga perlu diikuti dengan evaluasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan peserta. Pemagangan, misalnya, perlu memastikan peserta mendapatkan pekerjaan dan pengalaman yang relevan, bukan sekadar menjalani aktivitas administratif selama berada di perusahaan. Program vokasi juga perlu disesuaikan secara berkala dengan perkembangan kebutuhan industri agar keterampilan yang diberikan tidak cepat kehilangan relevansi. Sementara itu, pelatihan bagi korban PHK harus mempertimbangkan kondisi dan pengalaman kerja peserta sebelumnya sehingga proses transisi menuju pekerjaan baru dapat berlangsung lebih efektif. Evaluasi terhadap hasil program menjadi penting untuk mengetahui apakah pelatihan benar-benar meningkatkan peluang peserta mendapatkan pekerjaan.
Dengan berbagai program tersebut, pemerintah berupaya membangun pasar tenaga kerja yang lebih adaptif terhadap perubahan. Fresh graduate mendapatkan kesempatan memperoleh pengalaman, lulusan SMK diperkuat melalui pendidikan vokasi, sementara korban PHK diberikan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan melalui retraining. Pada saat yang sama, pengembangan kompetensi di bidang teknologi seperti AI dan semikonduktor diarahkan untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi kebutuhan industri masa depan. Tantangannya adalah memastikan seluruh program memiliki keterhubungan yang kuat dengan kebutuhan nyata perusahaan. Jika dilakukan secara konsisten, penguatan kompetensi tersebut dapat membantu lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan sekaligus memperkuat daya saing SDM Indonesia di tengah perubahan ekonomi dan teknologi global.






