Jakarta, 2 November 2026 – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bencana banjir melanda sejumlah wilayah di tiga provinsi Pulau Sumatera, yakni Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Banjir yang terjadi akibat tingginya intensitas hujan menyebabkan ribuan kepala keluarga terdampak, sementara sebagian warga terpaksa meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang lebih aman. Sejumlah daerah mengalami luapan sungai yang merendam permukiman, lahan pertanian, hingga fasilitas pendukung aktivitas masyarakat. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan perkembangan tersebut dalam konferensi pers secara daring pada Senin, 2 November 2026. Menurutnya, pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melakukan pendataan dan penanganan terhadap wilayah yang mengalami banjir. Kondisi di beberapa lokasi mulai menunjukkan perbaikan setelah genangan air berangsur surut, tetapi proses pemulihan masih membutuhkan perhatian. BNPB mengingatkan bahwa ancaman bencana hidrometeorologi tetap perlu diwaspadai seiring meningkatnya curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. https://news.okezone.com/+1
Di Provinsi Sumatera Barat, banjir bandang melanda Kabupaten Tanah Datar pada Minggu, 1 November 2026, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan lereng gunung. Peristiwa tersebut terjadi di Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, ketika debit air meningkat dan meluap ke jalan, permukiman penduduk, serta lahan pertanian. Berdasarkan laporan BNPB, sedikitnya 15 kepala keluarga terdampak dan sebagian warga harus mengungsi ke Mushola Surau Gadang. Banjir juga menyebabkan 15 unit rumah terendam, sementara sekitar 15 hektare lahan pertanian dan 20 kolam ikan turut terdampak. Kondisi tersebut menimbulkan kerugian bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan pertanian dan perikanan. Hingga Senin siang, air dilaporkan mulai surut sehingga petugas bersama masyarakat dapat melakukan pemeriksaan terhadap kondisi rumah dan lingkungan. Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Tanah Datar juga melakukan pendataan serta membantu proses pembersihan material yang terbawa banjir. BNPB meminta warga memperhatikan kebersihan lingkungan setelah genangan surut untuk mengurangi risiko munculnya gangguan kesehatan akibat lumpur dan air yang tercemar. BNPB+1
Sementara itu, banjir di Provinsi Sumatera Utara menyebabkan dampak yang lebih luas, terutama di Kabupaten Langkat dan Mandailing Natal. BNPB mencatat sebanyak 3.157 kepala keluarga terdampak banjir di Kabupaten Langkat berdasarkan perkembangan laporan yang disampaikan pada Senin. Di Kabupaten Mandailing Natal, jumlah keluarga terdampak tercatat mencapai 287 kepala keluarga. Banyaknya warga yang terkena dampak menunjukkan bahwa banjir telah mengganggu kehidupan masyarakat di sejumlah kawasan permukiman. Sebagian aktivitas sehari-hari terhambat karena genangan air membatasi mobilitas warga dan menyulitkan akses menuju fasilitas umum. Petugas penanggulangan bencana terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan masyarakat dapat ditangani sesuai kondisi masing-masing wilayah. Pendataan juga diperlukan untuk mengetahui jumlah rumah yang mengalami kerusakan serta kebutuhan bantuan bagi keluarga terdampak. BNPB menegaskan bahwa angka dampak bencana masih dapat mengalami perubahan karena proses asesmen dan verifikasi terus dilakukan oleh petugas di lapangan. https://news.okezone.com/+1
Di Provinsi Aceh, banjir dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kota Subulussalam, Kabupaten Gayo Lues, Aceh Barat, dan Aceh Selatan. BNPB menyampaikan bahwa kondisi genangan di Subulussalam mulai menunjukkan penurunan, sedangkan sejumlah daerah lainnya masih membutuhkan penanganan. Di Kabupaten Aceh Barat, banjir yang terjadi sejak 31 Oktober 2026 melanda 10 kecamatan dan 43 gampong atau desa. Bencana tersebut menyebabkan sedikitnya 105 warga harus mengungsi dari tempat tinggal mereka. Sementara itu, Kabupaten Aceh Selatan telah mengalami banjir sejak 28 Oktober 2026 dengan dampak yang mencakup dua kecamatan dan tiga gampong. Berdasarkan laporan terbaru, sebanyak 218 kepala keluarga atau sekitar 756 jiwa terdampak, sedangkan 161 orang tercatat mengungsi. Banjir di wilayah tersebut juga berdampak terhadap sekitar 210 unit rumah sehingga pemerintah daerah perlu melakukan penanganan terhadap kebutuhan tempat tinggal dan keselamatan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan telah menetapkan status tanggap darurat bencana yang berlaku mulai 30 Oktober hingga 12 November 2026 sebagai dasar pelaksanaan penanganan secara lebih terkoordinasi. detiknews
Besarnya dampak banjir di sejumlah daerah Sumatera menunjukkan pentingnya kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi peningkatan intensitas hujan. Genangan yang memasuki permukiman tidak hanya menyebabkan kerusakan rumah, tetapi juga dapat mengganggu akses transportasi, kegiatan pendidikan, serta aktivitas ekonomi masyarakat. Pada kawasan pertanian, banjir berpotensi merusak tanaman dan menghambat kegiatan produksi yang menjadi sumber penghasilan keluarga. Selain kerugian material, warga yang harus mengungsi juga menghadapi kebutuhan mendesak berupa makanan, air bersih, pakaian, tempat istirahat, dan pelayanan kesehatan. Kondisi sanitasi perlu mendapat perhatian karena genangan air yang bercampur lumpur maupun limbah dapat meningkatkan risiko penyakit. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas membutuhkan dukungan khusus selama berada di tempat pengungsian. Oleh karena itu, koordinasi antara BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat diperlukan agar bantuan dapat menjangkau warga yang membutuhkan. Penanganan bencana juga harus memperhatikan kondisi setelah banjir surut karena proses pembersihan dan pemulihan aktivitas masyarakat sering kali memerlukan waktu lebih lama dibandingkan masa genangan.
BNPB menyampaikan bahwa peningkatan kejadian bencana hidrometeorologi perlu menjadi perhatian serius seiring berlangsungnya masa peralihan menuju musim hujan. Berdasarkan data hingga 2 November 2026, tercatat 2.278 kejadian bencana di Indonesia sepanjang tahun berjalan. Jumlah tersebut bertambah 31 kejadian dibandingkan catatan pada 30 Oktober 2026 yang mencapai 2.247 kejadian. Penambahan tersebut terdiri atas 11 kejadian kebakaran hutan dan lahan, 10 banjir, tujuh kejadian cuaca ekstrem, serta tiga tanah longsor. Data ini menunjukkan bahwa ancaman bencana masih terjadi di berbagai wilayah dengan karakteristik yang berbeda-beda. BMKG memperkirakan sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan sedang hingga lebat dan angin kencang. Warga yang tinggal di bantaran sungai, dataran rendah, dan kawasan rawan longsor diminta memperhatikan perubahan kondisi lingkungan ketika hujan berlangsung dalam waktu lama. Pemerintah daerah juga diharapkan memastikan kesiapan sistem peringatan dini, jalur evakuasi, dan kebutuhan logistik agar respons terhadap bencana dapat dilakukan secara cepat. BNPB
Dalam menghadapi kondisi tersebut, BNPB mengimbau masyarakat di wilayah terdampak banjir untuk terus mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD, dan BMKG. Warga yang tinggal di sekitar sungai perlu meningkatkan kewaspadaan apabila debit air menunjukkan kenaikan cepat atau hujan deras berlangsung tanpa henti. Apabila situasi mulai membahayakan keselamatan, masyarakat disarankan segera menuju lokasi aman sesuai arahan petugas dan tidak memaksakan diri melintasi arus banjir. Setelah genangan surut, pemeriksaan instalasi listrik, sumber air bersih, dan kondisi bangunan perlu dilakukan sebelum rumah kembali digunakan secara normal. Petugas bersama masyarakat juga diharapkan melanjutkan pembersihan lingkungan untuk mencegah gangguan kesehatan dan mempercepat pemulihan aktivitas sehari-hari. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa bantuan bagi warga terdampak dapat disalurkan sesuai kebutuhan, terutama bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal sementara atau mengalami kerusakan sumber penghasilan. Rangkaian banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem harus terus diperkuat melalui kerja sama pemerintah dan masyarakat. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, penanganan cepat, serta upaya pemulihan yang terencana, dampak bencana diharapkan dapat dikurangi dan kehidupan warga terdampak dapat kembali berjalan secara bertahap. BNPB+1




