Jakarta, 22 September 2026 – Menggunakan tusuk gigi setelah makan menjadi kebiasaan bagi sebagian orang untuk mengeluarkan sisa makanan yang terselip di antara gigi. Meski terlihat praktis, penggunaan tusuk gigi kayu secara sembarangan dapat melukai jaringan gusi, terutama jika ujungnya tajam atau ditekan terlalu kuat. Luka kecil yang terjadi berulang dapat menimbulkan rasa nyeri dan membuat area gusi lebih mudah mengalami iritasi. NHS bahkan tidak menganjurkan penggunaan tusuk gigi kayu untuk mengeluarkan makanan yang tersangkut karena berpotensi merusak gusi dan dapat berujung pada infeksi.
Risiko biasanya meningkat ketika tusuk gigi dipaksakan masuk ke sela yang sempit. Tekanan berlebihan dapat mengenai jaringan lunak di antara dua gigi dan menyebabkan gusi berdarah. Kebiasaan mengorek bagian yang sama berulang kali juga berpotensi membuat jaringan tersebut terus mengalami trauma mekanis. Karena itu, rasa sakit atau perdarahan setelah memakai tusuk gigi sebaiknya tidak dianggap sebagai hal yang harus selalu terjadi ketika membersihkan sela gigi. Membersihkan sela gigi idealnya dilakukan secara lembut dengan alat yang memang dirancang untuk tujuan tersebut.
Sisa makanan di sela gigi memang perlu dibersihkan karena sikat gigi biasa tidak selalu mampu menjangkau permukaan di antara dua gigi secara efektif. Namun, tujuan pembersihan bukan hanya mengeluarkan potongan makanan yang terlihat. Plak juga dapat terbentuk di area tersebut dan sepanjang garis gusi. Apabila tidak dibersihkan, plak dapat mengeras menjadi karang gigi serta berkontribusi terhadap peradangan gusi. American Dental Association menyebut pembersihan interdental sebagai bagian penting dari perawatan kesehatan gigi dan gusi.
Sebagai alternatif, benang gigi atau dental floss dapat digunakan untuk membersihkan sela gigi yang rapat. Benang dimasukkan secara perlahan, kemudian dibentuk mengikuti sisi gigi dan digerakkan lembut naik-turun. Teknik tersebut membantu mengangkat plak dan sisa makanan tanpa perlu menusuk jaringan gusi. Penggunaan dengan gerakan kasar tetap harus dihindari karena alat pembersih interdental pun dapat menimbulkan cedera apabila dipaksakan. NHS menyarankan pembersihan sela gigi dilakukan setiap hari sebagai bagian dari kebersihan mulut.
Untuk orang dengan celah gigi yang lebih terbuka, sikat interdental dapat menjadi pilihan lain. Ukuran sikat harus sesuai sehingga dapat masuk dengan nyaman tanpa dipaksakan. Pemilihan ukuran yang terlalu besar atau penggunaan dengan tekanan berlebihan juga dapat mencederai gusi. ADA menjelaskan pemilihan metode pembersihan sela gigi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang, misalnya floss untuk sela sempit dan sikat interdental untuk ruang yang lebih terbuka. Konsultasi dengan dokter gigi dapat membantu menentukan alat dan ukuran yang tepat.
Perdarahan pada gusi juga tidak selalu disebabkan tusuk gigi. Gusi yang mudah berdarah dapat berkaitan dengan peradangan akibat penumpukan plak atau masalah periodontal lainnya. Gingivitis merupakan tahap awal penyakit gusi dan dapat ditandai dengan gusi yang membengkak atau berdarah ketika menyikat maupun membersihkan sela gigi. Karena itu, perdarahan yang sering muncul meskipun tusuk gigi sudah tidak digunakan perlu diperhatikan. Pemeriksaan dokter gigi dapat membantu menentukan apakah terdapat masalah lain yang memerlukan perawatan.
Apabila gusi telanjur terluka, hindari kembali mengorek bagian tersebut dengan tusuk gigi atau benda tajam lainnya. Kebersihan mulut tetap perlu dijaga dengan menyikat gigi secara lembut agar sisa makanan dan plak tidak menumpuk di sekitar area yang mengalami cedera. Cedera jaringan lunak di dalam mulut umumnya membutuhkan perhatian apabila muncul perdarahan signifikan, pembengkakan, rasa sakit yang bertambah, atau tanda yang mengarah pada infeksi. Keluhan yang tidak membaik sebaiknya diperiksakan kepada dokter gigi.
Selain membersihkan sela gigi, kebiasaan menyikat gigi tetap menjadi dasar utama menjaga kesehatan mulut. Gigi dianjurkan disikat setidaknya dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride, disertai pembersihan sela gigi setiap hari. Kombinasi tersebut membantu mengurangi plak yang menjadi penyebab utama penyakit gusi. Membersihkan sela gigi juga bukan sekadar tindakan setelah ada makanan yang tersangkut, melainkan bagian dari rutinitas kebersihan mulut. Dengan demikian, penggunaan alat yang tepat dan teknik yang lembut lebih penting daripada sekadar mengorek sisa makanan secepat mungkin.
Penggunaan tusuk gigi sesekali tidak berarti setiap orang pasti mengalami masalah gusi, tetapi cara penggunaan dan jenis alat sangat menentukan risikonya. ADA mencatat terdapat produk pembersih interdental berbahan kayu atau plastik yang memang dirancang khusus untuk membersihkan sela gigi, berbeda dengan tusuk gigi kayu biasa. Pemilihan alat perlu mempertimbangkan ukuran sela, kondisi gusi, keberadaan kawat gigi, implan, maupun kondisi gigi lainnya. Prinsip utamanya adalah tidak memaksakan benda keras atau tajam ke jaringan gusi.
Kebiasaan memakai tusuk gigi dengan tekanan kuat pada akhirnya lebih baik diganti dengan metode pembersihan sela gigi yang sesuai. Floss, sikat interdental, maupun pembersih interdental lain dapat menjadi pilihan berdasarkan kondisi masing-masing pengguna. Jika makanan terus-menerus tersangkut pada titik yang sama, terlebih disertai nyeri atau perdarahan, pemeriksaan dokter gigi dapat membantu mencari penyebabnya. Menjaga kebersihan sela gigi memang penting, tetapi prosesnya tidak seharusnya sampai melukai jaringan gusi. Penggunaan alat yang tepat secara rutin dapat membantu menjaga gigi dan gusi tetap sehat dalam jangka panjang.




