Jakarta, 3 September 2026 – Sensasi pusing, melayang, tidak seimbang, atau kliyengan tidak selalu berasal dari gangguan telinga bagian dalam maupun tekanan darah. Pada sebagian orang, keluhan tersebut dapat berkaitan dengan masalah pada leher yang dikenal sebagai cervicogenic dizziness. Kondisi ini biasanya muncul bersamaan dengan nyeri, kekakuan, atau keterbatasan gerak pada leher dan dapat terasa semakin kuat ketika kepala berada dalam posisi tertentu. Penderitanya umumnya tidak menggambarkan sensasi berputar hebat seperti pada vertigo klasik, melainkan merasa tubuh tidak stabil atau lingkungan terasa bergoyang. Keluhan dapat mengganggu aktivitas sederhana seperti berjalan, bekerja di depan komputer, mengemudi, maupun bangun dari posisi duduk. Meski beberapa latihan ringan dapat membantu, penyebab pusing tetap perlu dikenali dengan tepat karena gejala serupa dapat muncul akibat berbagai kondisi lain.
Cervicogenic dizziness bukanlah penyakit yang dapat ditentukan hanya berdasarkan satu pemeriksaan khusus. Kondisi tersebut lebih sering dianggap sebagai diagnosis klinis setelah penyebab pusing lainnya disingkirkan melalui pemeriksaan. Hubungan antara leher dan keseimbangan terjadi karena otot, sendi, serta jaringan di daerah leher memiliki reseptor yang terus mengirimkan informasi mengenai posisi kepala kepada otak. Informasi tersebut kemudian dipadukan dengan sinyal dari mata dan sistem vestibular di telinga bagian dalam untuk menjaga orientasi serta keseimbangan tubuh. Apabila sinyal dari leher mengalami gangguan, informasi yang diterima otak dapat menjadi tidak selaras dengan masukan dari mata maupun telinga. Ketidaksesuaian tersebut diduga menjadi salah satu mekanisme yang memunculkan sensasi tidak stabil atau pusing.
Keluhan biasanya memiliki hubungan yang cukup jelas dengan kondisi leher. Seseorang dapat merasakan pusing setelah mempertahankan posisi kepala terlalu lama, melakukan gerakan tertentu, atau ketika nyeri dan kekakuan leher sedang meningkat. Pekerja yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer dapat mengalami ketegangan otot akibat posisi kepala yang terus terdorong ke depan. Kebiasaan menunduk ketika menggunakan telepon genggam dalam waktu panjang juga dapat menambah beban pada struktur leher. Namun, postur buruk saja tidak otomatis berarti seseorang mengalami cervicogenic dizziness. Pemeriksaan tetap diperlukan untuk menentukan apakah keluhan memang berhubungan dengan leher atau berasal dari gangguan lain yang kebetulan muncul secara bersamaan.
Gejalanya dapat berbeda antara satu orang dengan lainnya, tetapi rasa tidak seimbang menjadi salah satu keluhan yang cukup sering ditemukan. Sebagian orang menggambarkan kepala terasa ringan, tubuh seperti melayang, atau langkah menjadi kurang mantap ketika berjalan. Nyeri dan kekakuan leher dapat muncul bersamaan, termasuk berkurangnya kemampuan menoleh ke kanan maupun kiri. Keluhan terkadang bertambah ketika kepala digerakkan dan berkurang setelah ketegangan pada leher membaik. Sakit kepala yang berawal dari bagian belakang kepala juga dapat menyertai pada sebagian penderita. Pola tersebut perlu diperhatikan karena dapat membantu tenaga kesehatan memahami hubungan antara keluhan keseimbangan dan kondisi leher.
Penanganan cervicogenic dizziness umumnya diarahkan untuk memperbaiki gangguan pada leher sekaligus melatih kembali sistem keseimbangan. Fisioterapi dapat mencakup latihan mobilitas, penguatan otot, perbaikan kontrol postur, serta terapi manual sesuai kondisi pasien. Pada beberapa orang, latihan vestibular juga dapat diberikan untuk membantu otak menyesuaikan informasi dari mata, telinga, dan sistem sensorik tubuh. Program latihan sebaiknya disesuaikan dengan penyebab serta kemampuan masing-masing orang karena tidak semua gerakan cocok untuk setiap kondisi leher. Gerakan yang terlalu agresif justru dapat meningkatkan nyeri atau memperburuk keluhan. Karena itu, latihan ringan lebih tepat dilakukan secara perlahan dan dihentikan apabila menimbulkan pusing berat atau rasa sakit yang semakin kuat.
Salah satu gerakan sederhana yang dapat dilakukan adalah latihan rotasi leher dengan rentang yang nyaman. Dalam posisi duduk tegak, kepala dapat diputar perlahan ke kanan sampai terasa tarikan ringan tanpa memaksakan gerakan, kemudian kembali ke tengah dan dilakukan ke arah kiri. Gerakan dapat diulang beberapa kali sambil menjaga bahu tetap rileks dan pernapasan normal. Latihan ini bertujuan mempertahankan mobilitas leher tanpa memberikan tekanan berlebihan. Kepala tidak perlu diputar hingga batas maksimal apabila muncul rasa sakit. Orang dengan riwayat cedera leher atau kondisi tulang belakang tertentu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum melakukan latihan secara mandiri.
Latihan lain yang sering digunakan dalam rehabilitasi leher adalah chin tuck atau menarik dagu perlahan ke belakang. Gerakan dilakukan dengan posisi kepala tetap tegak seolah-olah membuat dagu sedikit masuk tanpa menundukkan kepala. Posisi tersebut dapat ditahan beberapa detik sebelum kembali rileks dan diulang secara perlahan. Chin tuck membantu melatih kontrol otot leher sekaligus mengurangi kecenderungan posisi kepala terlalu maju ketika duduk. Latihan ini relatif sederhana dan dapat dilakukan tanpa peralatan, tetapi tidak dimaksudkan sebagai cara instan untuk menghilangkan semua jenis pusing. Apabila gerakan justru memicu nyeri tajam, kesemutan, atau pusing yang semakin berat, latihan perlu dihentikan.
Peregangan ringan pada otot leher dan bahu juga dapat membantu apabila keluhan disertai ketegangan setelah duduk dalam waktu lama. Kepala dapat dimiringkan perlahan sehingga telinga mendekati bahu tanpa mengangkat bahu ke arah telinga. Peregangan cukup dilakukan sampai muncul sensasi tarikan ringan pada sisi leher dan tidak perlu dipaksakan. Kebiasaan mengambil jeda dari posisi duduk setiap beberapa waktu juga dapat membantu mengurangi beban statis pada leher. Layar komputer sebaiknya ditempatkan pada ketinggian yang memungkinkan kepala berada dalam posisi nyaman dan tidak terus-menerus menunduk. Penyesuaian ergonomi tersebut dapat menjadi bagian penting dari penanganan apabila aktivitas sehari-hari menjadi faktor yang memperburuk keluhan.
Meski demikian, pusing tidak sebaiknya langsung dianggap berasal dari leher karena terdapat banyak kemungkinan penyebab lainnya. Gangguan vestibular, migrain, efek obat, dehidrasi, anemia, perubahan tekanan darah, masalah neurologis, hingga kondisi kardiovaskular dapat menimbulkan keluhan yang terasa serupa. Dokter dapat melakukan pemeriksaan berdasarkan karakter pusing, kapan gejala muncul, berapa lama berlangsung, kondisi yang memperburuknya, serta keluhan lain yang menyertai. Pemeriksaan leher, keseimbangan, gerakan mata, saraf, dan fungsi vestibular dapat diperlukan berdasarkan temuan awal. Pendekatan tersebut penting karena cervicogenic dizziness pada dasarnya membutuhkan proses untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain sebelum diagnosis semakin mengarah pada gangguan leher.
Terdapat pula tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan medis segera dan tidak cukup ditangani dengan peregangan atau latihan leher. Pusing yang muncul mendadak dan sangat berat, terutama apabila disertai kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh, bicara pelo, kesulitan berjalan, penglihatan ganda, pingsan, nyeri dada, atau sakit kepala luar biasa perlu mendapatkan pertolongan secepatnya. Pemeriksaan juga penting apabila pusing muncul setelah cedera kepala atau leher yang cukup berat. Gejala-gejala tersebut dapat berkaitan dengan kondisi yang lebih serius dan membutuhkan evaluasi langsung. Memaksakan manipulasi atau memutar leher dengan keras ketika penyebab keluhan belum diketahui juga sebaiknya dihindari.
Cervicogenic dizziness pada akhirnya merupakan salah satu kemungkinan penyebab pusing yang perlu dipertimbangkan ketika keluhan memiliki hubungan erat dengan nyeri atau gangguan gerak leher. Gerakan sederhana seperti rotasi leher dalam rentang nyaman, chin tuck, peregangan ringan, serta perbaikan postur dapat menjadi bagian dari upaya rehabilitasi apabila memang sesuai dengan kondisi penderita. Namun, latihan tersebut tidak menggantikan pemeriksaan untuk menentukan penyebab pusing dan tidak menjamin keluhan langsung menghilang. Penanganan terbaik biasanya menggabungkan perbaikan fungsi leher, latihan keseimbangan bila diperlukan, serta perubahan kebiasaan yang menjadi pemicu. Mengenali pola gejala dan menghindari gerakan agresif menjadi langkah penting agar latihan dilakukan secara aman. Apabila keluhan menetap, sering berulang, atau disertai tanda bahaya, pemeriksaan tenaga kesehatan tetap menjadi pilihan utama.




